Skip to main content

Love Between Two Worlds - Chapter 60

   Chapter 60 — The First Memory "I remember you." Amelia couldn't move. The voice was hers — not similar, not distorted, not some echo carrying her tone. Her own voice, speaking from somewhere so close she felt the words against the shell of her ear. Then the darkness shifted, and she opened her eyes standing alone. No grave, no staircase, no First King, no Alaric. No Adrian. Only darkness stretching in every direction. "Adrian?" Her voice vanished into the black. "Adrian!" Nothing. Panic rose sharp in her chest as she turned, searching for anything familiar. Then a small golden light appeared in the distance, and a child stood inside it. Amelia recognized her instantly. The first version of herself — the little girl beneath the three moons. But this time, she wasn't smiling. "You're late," the child said. "Where's Adrian?" "He's remembering." "Remembering what?" "The part he wasn't allo...

Love Between Two Worlds - Chapter 37

  

Chapter 37 — The World That Refused to Die

Untuk beberapa detik, Amelia tidak bisa mendengar apa-apa.

Bukan laut.

Bukan angin.

Bukan napas Adrian.

Hanya kesunyian yang tertinggal setelah semua pintu lain tertutup.

Wanita berwajah Eleanor itu berdiri di sisi lain dari pintu terakhir.

Seris berdiri di sampingnya.

Tak satu pun bergerak.

Tak satu pun berkedip.

Amelia menatap mereka berdua.

"Nenek?"

Wanita itu tersenyum.

"Bukan tepatnya."

Suaranya adalah suara Eleanor.

Tapi ada sesuatu di baliknya yang berbeda.

Lebih tua.

Lebih dingin.

Amelia melangkah maju tanpa sadar.

Adrian menahan tangannya.

"Jangan."

Ia menatapnya.

Mata Adrian terpaku pada Seris.

"Itu bukan ibuku."

Wanita di samping Eleanor tersenyum.

"Benar," katanya.

"Bukan."

Suaranya adalah suara Seris.

Tapi Seris berdiri tepat di sana.

Hidup.

Matanya masih hitam sepenuhnya.

Genggaman Adrian mengerat.

"Siapa kau?"

Wanita itu menatapnya.

"Aku adalah pilihan yang tidak pernah diambil ibumu."

Adrian membeku.

Seris memalingkan wajah.

Amelia merasa kepingan-kepingan mulai tersusun.

"Kemungkinan lain."

"Ya."

"Dari dunia lain."

"Bukan dunia lain."

Wanita itu menoleh ke belakang.

"Dunia sebelum dunia-dunia."

Sang Pemimpi melangkah maju.

"Tidak ada yang bisa memasuki tempat itu."

Wanita itu tersenyum padanya.

"Mereka sudah memasukinya."

Ia menunjuk ke arah Amelia dan Adrian.

"Sejak saat mereka membuka pintu itu."

Wajah Sang Pemimpi kehilangan warnanya.

"Apa yang kau lakukan?"

"Tidak ada."

Wanita itu menatap Amelia.

"Dia yang melakukannya."

Amelia mengerutkan kening.

"Aku tidak menciptakan dunia itu."

"Tidak."

Senyum wanita itu melembut.

"Kau mengungkapkannya."

Aurelia melangkah maju.

"Tempat apa itu?"

Wanita itu menoleh padanya.

"Dunia yang menolak untuk mati."

Sunyi.

Lucien menundukkan kepala.

Sang Ayah memejamkan mata.

Bahkan ketiadaan Hollow terasa semakin berat.

Amelia menatap ke dalam pintu itu.

Pemandangan di baliknya tidak seperti apa pun yang pernah ia lihat.

Indah.

Terlalu indah.

Gunung-gunung menjulang di bawah langit keperakan.

Hutan-hutan terbentang di lembah-lembah luas.

Kota-kota berkilau di kejauhan, tak tersentuh usia.

Sungai-sungai mengalir seperti pita cahaya.

Dan di mana-mana—

Manusia.

Jutaan dari mereka.

Berdiri diam sempurna.

Menatap.

Menunggu.

Amelia menelan ludah.

"Mereka hidup."

"Ya."

"Tapi kupikir First World sudah dihancurkan."

"Memang."

"Lalu bagaimana bisa mereka masih ada di sana?"

Wanita itu menatapnya.

"Karena kehancuran tidak selalu berarti kematian."

Adrian melangkah maju.

"Apa yang terjadi pada mereka?"

"Mereka menolak akhir."

"Apa maksudnya?"

"Mereka memilih untuk tetap ada."

Amelia merasakan hawa dingin.

"Seperti Hollow."

Wanita itu mengangguk.

"Tepat sekali."

Hollow tiba-tiba muncul di samping Amelia.

Bukan secara fisik.

Sebagai bayangan di udara.

Mata perak-hitamnya menatap tembus ke dalam pintu.

Jutaan orang di baliknya menundukkan kepala.

Hollow berbisik:

"Mereka ingat."

Wanita itu tersenyum.

"Mereka selalu ingat."

Amelia menatapnya. "Ingat apa?"

Ekspresi Hollow berubah.

"Kami."

Pintu itu bergetar.

Jutaan orang di baliknya mulai bergerak.

Perlahan.

Selangkah demi selangkah.

Ke arah Amelia.

Adrian mengangkat pedangnya.

"Mundur."

Wanita itu tertawa pelan.

"Mereka tidak akan menyakitimu."

"Bagaimana kau tahu?"

"Karena mereka tidak datang untukmu."

Matanya tertuju pada Amelia.

"Mereka datang untuknya."

Hati Amelia jatuh.

"Kenapa?"

"Karena kau membuka jalannya."

"Aku tidak bermaksud begitu."

"Maksud tidak penting."

Suara wanita itu menjadi lebih dingin.

"Kau memberi mereka sesuatu yang sudah lama tidak mereka miliki."

"Apa itu?"

"Harapan."

Kata itu bergema aneh di telinga.

Orang-orang di balik pintu mulai berlutut.

Satu per satu.

Lalu ribuan.

Lalu jutaan.

Semuanya menghadap Amelia.

Aurelia mundur selangkah.

"Mereka bersujud."

Lucien berbisik:

"Kepada sang Ratu."

"Tidak," kata Amelia cepat.

Senyum wanita itu melebar.

"Bukan kepada sang Ratu."

Ia menatap Amelia.

"Kepada orang yang bisa memilih apakah mereka akan terus ada atau tidak."

Amelia merasa mual.

"Bagaimana bisa?"

"First World bertahan karena seseorang mengingatnya."

"Siapa?"

Wanita itu mengangkat tangannya.

Semua mata beralih ke arah Seris.

Wajah Adrian berubah.

"Ibuku."

Seris bermata hitam itu melangkah maju.

"Dia telah menahan ingatan itu."

"Sudah berapa lama?"

"Sejak perpisahan pertama."

Adrian menatapnya. "Tapi dia ada di Nameless World."

"Sebagian dirinya ada di sana."

Wanita itu menatapnya.

"Sisanya tertinggal."

Amelia mengerutkan kening. "Tertinggal di mana?"

"Di dunia sebelum dunia."

Suara berat bergemuruh menembus pintu itu.

Langit di baliknya menggelap.

Sesuatu yang mahabesar bergerak di bawah pegunungan yang jauh.

Orang-orang di sisi lain menundukkan kepala lebih dalam.

Wanita berwajah Eleanor itu menjadi serius.

"Dia terbangun."

Perut Amelia terasa terpuntir.

"Siapa?"

"Yang menolak untuk mati."

"Raja yang lain?"

"Bukan."

Wanita itu menatap ke arah pegunungan.

"Manusia pertama."

Sunyi.

Adrian menurunkan pedangnya sedikit.

"Manusia pertama?"

"Sebelum para raja."

"Sebelum para Guardian."

"Sebelum Hollow."

"Sebelum Veil."

Amelia menatapnya. "Lalu apa dia sebenarnya?"

Wanita itu menatapnya.

"Pilihan."

Kata itu terucap lembut.

"Sama sepertimu."

Amelia menggeleng.

"Itu mustahil."

"Tidak."

Wanita itu melangkah lebih dekat.

"Manusia pertama adalah makhluk pertama yang berani mengatakan tidak pada takdir."

Detak jantung Amelia semakin cepat.

"Dan itu menciptakan dunia."

"Tidak sepenuhnya."

"Lalu apa yang ia ciptakan?"

"Sebuah konsekuensi."

Pegunungan di kejauhan terbelah.

Cahaya putih naik dari bumi.

Setiap orang di First World jatuh berlutut.

Sang Pemimpi berbisik:

"Dia terjaga."

Sang Ayah mundur selangkah.

"Tidak."

Amelia menatapnya. "Kau mengenalnya."

"Aku tahu apa yang ia menjadi."

Cahaya itu semakin terang.

Sesuatu memanjat keluar dari pegunungan.

Seorang pria.

Ia tampak sangat tua, melampaui usia mana pun yang pernah Amelia bayangkan.

Rambutnya putih.

Wajahnya seperti terpahat dari batu.

Matanya sepenuhnya hitam.

Tapi tidak seperti sosok asing yang pernah menyeberang lewat celah dulu, ada sesuatu yang lain di matanya itu.

Pengenalan.

Ia menatap Amelia.

Lalu Adrian.

Lalu Hollow.

Untuk waktu yang lama, ia tidak berkata apa-apa.

Kemudian:

"Kau membuka pintu itu."

Amelia menelan ludah.

"Siapa kau?"

Pria itu menatapnya.

"Aku adalah pilihan pertama."

Ia mengerutkan kening.

"Kau terus mengatakan itu."

Ia tersenyum.

"Karena kau belum memahaminya."

Ia mengangkat tangannya.

Seluruh First World berubah.

Kota-kota lenyap.

Pegunungan menghilang.

Orang-orang lenyap.

Semuanya menjadi kosong.

Hampa.

Amelia terkesiap.

"Ini yang seperti apa sebelumnya."

"Ya."

"Tidak ada dunia."

"Tidak ada kehidupan."

"Tidak ada aturan."

"Tidak ada apa-apa."

Pria itu menatapnya.

"Lalu seseorang memilih."

Sebuah cahaya kecil muncul.

Satu.

Lalu dua.

Lalu ribuan.

Alam semesta mulai terbentuk di sekitar mereka.

Bintang-bintang.

Planet-planet.

Lautan-lautan.

Kehidupan.

Amelia menatap dengan takjub.

"Kau."

Pria itu menggeleng.

"Bukan aku."

"Lalu siapa?"

Matanya beralih ke arah Hollow.

"Itu."

Hollow mendongak.

"Aku adalah mimpi itu."

"Ya."

"Dan kau?"

"Aku adalah penolakan itu."

Pikiran Amelia berputar cepat.

"Hollow bermimpi."

"Dunia mengikuti."

"Kau menolak."

"Dunia berubah."

"Lalu apa yang membuatmu jadi begini?"

Pria itu tersenyum.

"Konsekuensi pertama."

Adrian melangkah lebih dekat.

"Dan kenapa kau menunggu selama ini?"

Mata pria itu beralih padanya.

"Karena setiap dunia pada akhirnya melupakan awal mulanya."

Ia menatap Amelia.

"Tapi kau mengingatnya."

Ia mengerutkan kening. "Aku tidak ingat apa-apa."

"Tidak secara sadar."

Ia tersenyum.

"Darahmu yang mengingatnya."

Garis-garis perak di bawah kulit Amelia mulai bercahaya.

Ia menunduk menatapnya.

"Apa yang terjadi?"

Pria itu melangkah lebih dekat.

"First World mengenalimu."

Amelia merasakan tanah di bawah kakinya merespons.

Laut di balik pintu itu naik.

Pegunungan-pegunungan membungkuk.

Orang-orang mengangkat kepala mereka.

Dan wanita berwajah Eleanor itu berbisik:

"Dialah orangnya."

Adrian melangkah, berdiri di depan Amelia.

"Orangnya untuk apa?"

Pria itu menjawab.

"Untuk memutuskan apakah dunia ini akan tetap ada."

Amelia menatapnya.

"Kenapa itu harus jadi keputusanku?"

"Karena kau satu-satunya yang berdiri di luar semua pilihan itu."

Sunyi.

Amelia mengerti.

Dunia manusia.

Elarion.

First World.

Nameless World.

Dunia-dunia terlupakan di bawah laut.

Ia tidak termasuk dari satu pun di antaranya.

Dan karena itu—

ia bisa memilih untuk mereka semua.

Perutnya berputar.

"Tidak."

Pria itu tersenyum.

"Itu dia."

"Apa?"

"Pilihan pertamamu yang sesungguhnya."

Pintu itu mulai menutup.

Amelia menjangkau ke arahnya.

"Tunggu."

Pria itu menatapnya.

"Kau punya waktu sampai pintu ini tertutup."

"Untuk memutuskan apa?"

Mata hitamnya bertemu dengan matanya.

"Apakah First World layak untuk hidup."

Pintu itu semakin menyempit.

Adrian menggenggam tangan Amelia.

"Kita akan mencari jalan keluarnya."

Ia menatapnya. "Bersama?"

"Selalu."

Pria itu menatap mereka.

Lalu tersenyum.

"Berhati-hatilah."

Pintu itu semakin mengecil.

"Cinta juga adalah sebuah pilihan."

Celah terakhir masih tersisa.

Dan melalui celah itu, Amelia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Blackwood Manor.

Berdiri di dalam First World.

Namun lebih tua.

Jauh lebih tua.

Dan di salah satu jendelanya berdiri Eleanor.

Eleanor yang asli.

Bukan kenangan.

Bukan kemungkinan.

Bukan wanita yang mengenakan wajahnya.

Neneknya.

Hidup.

Menatap Amelia.

Dan di belakangnya berdiri sebuah bayangan.

Seorang pria bermata perak.

Jantung Amelia serasa berhenti.

Adrian berbisik:

"Itu mustahil."

Pintu itu menutup dengan keras.

Dan hal terakhir yang didengar Amelia dari sisi lain adalah suara Eleanor.

"Jangan percaya pria di sampingku."

Adrian menatapnya.

Amelia balas menatap.

Tak satu pun dari mereka berkata apa-apa.

Karena suara itu adalah suara Eleanor.

Tapi peringatan itu—

adalah kebalikan persis dari yang pernah ia berikan sebelumnya.

Comments

Popular posts from this blog

Love Between Two Worlds - Chapter 4

  Chapter 4 — Elarion (Rewritten) The first thing Amelia noticed was the silence. Not the ordinary kind — not the hush of an empty room or a house asleep. This was older than that. The sort of silence that felt like it had existed before anyone had bothered inventing sound at all. One moment she'd been standing in the west corridor with Adrian's hand locked around hers. The next, the cold stone under her feet was gone, replaced by something soft and yielding that gave slightly with every step, like the forest floor itself was still deciding whether to hold her weight. She stopped breathing without meaning to. Mist curled lazily around her ankles. The air carried rain, and pine, and something sweeter underneath that she couldn't place — something that smelled almost like memory. She looked up. The sky wasn't dark blue. It wasn't the deep purple of a storm rolling in at dusk. It was violet. Genuinely, impossibly violet, the color of something that had never once consi...

Love Between Two Worlds - Chapter 1

  Chapter 1 - The Door at Blackwood Manor Rain had been hammering the roof for three hours straight when Amelia Hart finally saw the door. It waited at the far end of the west corridor, hemmed in by portraits gone the color of weak tea and wallpaper curling away from the plaster like old skin. Amelia had lived in the manor nearly a month. She would have sworn, under oath, that this corridor ended in a blank wall. The door itself was tall, narrow, cut from oak so dark it seemed to drink the lantern light rather than reflect it. Silver traced across its surface in patterns that resolved, the longer she looked, into something like constellations. She stopped walking. "That's not possible." She raised the lantern. The flame guttered, then steadied, throwing the door into sharper relief. She had walked every room of this house since her grandmother's death handed it to her — every room, she'd have said, without exception. The old woman's final letter had contained ...

Love Between Two Worlds - Chapter 12

  Chapter 12 — The Choice of Two Worlds The first star went out. Then another. Amelia watched the darkness spread beneath her feet, swallowing the light one point at a time across the impossible glass. "What happens when they're all gone?" The first Hart didn't answer right away. Her silver-crowned head tilted, as if she were listening to something far below them. "When the last one disappears," she said, "the Veil will no longer remember the difference between your world and mine." Amelia swallowed. "And then?" "Then there will be no two worlds. Only one, and it will not hold." Adrian stepped closer. "You said she had a choice." "She does." "Then stop speaking in riddles." The first Hart turned to him, and something shifted behind her ancient eyes — recognition, maybe, or memory. "You sound like your father." Adrian went completely still. Amelia turned toward him. "Your father?"...